Jumat, 12 Februari 2021

Sempat Insecure Karna Merasa "Gagal" Menjadi Seorang Ibu


Assalamualaikum,

Impian besar seorang wanita dalam hidupnya adalah bisa menikah, merasakan kehamilan, bisa menyusui dan memiliki keluarga yang sehat dan bahagia selalu. Alhamdulillah beberapa impian tersebut Allah izinkan untuk saya miliki saat ini, meskipun di dalam setiap prosesnya saya ditakdirkan untuk menghadapi beberapa cobaan dan ujian terlebih dahulu.
Sudah 7 bulan saya memiliki peran baru di dalam keluarga, selain menjadi seorang istri, Allah SWT beri skaya amanah baru yaitu menjadi seorang ibu untuk Kakang. Sungguh peran yang sangat saya syukuri setiap hari, bisa memiliki keluarga kecil yang masih auh dari kata sempurna, tapi Alhamdulillah kami selalu merasa saling menyempurnakan.

Ternyata menjadi seorang ibu gak semudah prasangka saya sebelumnya Banyak banget hal yang kadang bisa menjadi dilema bagi seorang ibu. Perlu waktu sekitar 7 bulan untuk saya akhirnya siap menceritakannya di sini, karna jujur sampai saat ini pun saya masih merasa malu sebagai seorang ibu.

Berbulan – bulan saya selalu merasa “gagal” menjadi ibu yang baik untuk Kakang. Mencoba mengalihkan pikiran tersebut dengan social media ternyata kesalahan besar. Semakin banyak saya menghibur diri di social media, justru semakin sakit dan semakin besar rasa insecure saya sebagai ibu.

Gagal menyusui dan memberikan ASI ekslusif untuk Kakang menjadi alasan utama rasa insecure itu muncul. Belum lagi saat itu banyak teman seumuran saya yang juga baru melahirkan, kebayang dong social media saya khususnya instagram penuh d,engan postingan new mom yang lagi exited banget menyusui anaknya. Postingan-postingan hasil pumping pun berseliweran dimana-dimana. Simple tapi ampuh bikin saya nangis bombay.

Sebenernya saat awal lahiran, ASI saya memang belum keluar. Sampai-sampai di malam pertama setelah Kakang lahir, Kakang menangis semalaman karna lapar. Untungnya bidan yang membantu proses lahiran menenangkan dan bilang kalo ASI tidak keluar di hari pertama masih wajar, gak masalah bayi newborn belum mendapatkan ASI sampai usianya 3 hari, asalkan ibu selalu menyusui bayi agar menjadi rangsangan bagi payudara. Saat itu rasanya perasaan saya gak karuan, antara sedih lihat Kakang yang gamau tidur karna lapar, tapi juga gamau nyerah untuk bisa memberikan ASI ekslusif untuk Kakang.

Selama satu bulan lamanya saya dan suami mencoba ikhtiar agar ASI saya bisa cukup untuk Kakang. Mulai dari mencoba segala jenis ASI Booster, minum vitamin, makan sayur dan buah, sampai terakhir kita coba untuk pijat laktasi agar memperlancar saluran ASI. Tapi Qadarallah ASI saya memang sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan Kakang setiap hari.

Beberapa teman menyarankan untuk memperbanyak durasi pumoping. Karna semakin banyak durasi pumping dalam sehari dapat memperlancar produksi ASI juga. Semakin sering pumping, produksi ASI akan semakin tinggi. Saya pun langsung mencoba cara tersebut. Setiap dua jam sekali saya pumping, dan tetap saja hasilnya masih kurang memuaskan. Sekali pumping untuk dua PD saya hanya mendapatkan ASI sebanyak 10 – 15ml saja, makin ngerasa gagal dan gak berguna banget sebagai seorang ibu.

Saya sadar, mungkin stress karna ASI sedikit pun menjadi salah satu faktor produksi ASI saya menjadi kurang baik. Hampir setiap pumping saya menangis, apalagi ketika harus melihat Kakang diberi susu formula, rasanya gak rela aja anak saya harus dikasih susu formula.

Rasa insecure dan depresi semakin saya alami setelah kurang lebih 40 hari semenjak Kakang lahir. Rasanya sudah segala cara saya coba agar produksi ASI saya bisa membaik, tapi hasilnya nol besar, justru cenderung makin memburuk setiap hari. Beberapa kali suami bilang sama saya buat ikhlas. Toh tidak ada yang memaksakan saya untuk bisa memberikan ASI pada Kakang, menurutnya anak sehat dan ceria sudah lebih dari cukup. Alhamdulillah suami selalu mensupport apapun pilihan saya.

Omongan dari pihak luar pun mulai menggangu saya. Dari yang bilang “ibunya males kasih ASI kali”, “kok ASINya sedikit? Kurang makan sayur ya”, sampai yang paling bikin saya sedih ketika ada yang bilang “Dikasi susu formula, Kakang anak sapi dong”. Ya Allah sebegitunya ya mulut orang lain. Saya hanya bisa tersenyum meskipun sebenernya sedih plus marah mendengar omongan mereka. Becandaan yang menurut saya gak ada lucunya sama sekali.

Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk bisa ikhlas dan menerima Kakang diberi susu formula secara full. Selalu saya tekankan pada diri sendiri, meskipun Kakang full susu formula, tapi Kakang tetap anak saya. Kakang tetap anak yang pintar dan sehat. Kakang tetap anak pertama saya yang setia menemani saya dan menjadi bagian dari tubuh saya selama 9 bulan, Kakang tetap anak yang pernah berada dalam Rahim saya, satu tubuh dengan saya dan selalu menjadi darah daging saya.

Ternyata rasa bersalah dan insecure menjadi seorang ibu belum bisa hilang meskipun sudah berbulan-bulan lamanya. Sampai hari ini pun kadang saya masih merasa belum bisa memberikan asupan terbaik untuk Kakang. Saya gagal memberikan nutrisi terbaik untuk Kakang sejak awal Kakang lahir. Tapi, selalu cepat-cepat saya hilangkan pikiran itu ketika melihat Kakang tumbuh dan berkembang menjadi anak yang semakin pintar. Alhamdulillah Allah kasih saya anak yang soleh, pintar, sehat dan sempurna seperti Kakang. Kayaknya kalo saya masih merasa insecure terhadap diri sendiri, saya malu dan gak bersyukur. Allah udah ngasih banyak banget nikmat buat saya, salah satunya menjadi seorang ibu untuk Kakang.

Semenjak itu, setiap kali ada teman, saudara atau kerabat yang melahirkan, saya mencoba menghindari untuk mengucapkan kata “MengASIhi”, karna menurut saya kasih sayang seorang ibu tetap sama meskipun anaknya diberi ASI ataupun susu formula. Semua ibu menyusui, dan setiap ibu pasti mengasihi.

Perjuangan dan kasih sayang semua ibu sama, ibu yang melahirkan secara normal atau caesar, ibu yang memberikan ASI atau susu formula, ibu yang bekerja atau mengurus rumah tangga. Karna ibu terbaik untuk anak-anaknya adalah ibu yang selalu merasa bahagia dan selalu bersyukur.

Semoga Kakang gak pernah merasa kecewa sama Mamah ya. Terimakasih karna Kakang udah menjadi anak Mama dan Babah. Terimakasih untuk selalu menjadi pengingat Mama agar lebih banyak bersyukur. Kakang anak yang pintar, meskipun Kakang gak sepenuhnya Mama kasih ASI, tapi ikatan batin Mama sama Kakang selalu terjalin dan akan semakin kuat.

Untuk para ibu diluar sana yang merasa gagal karna tidak bisa memberikan ASI ekslusif karna satu atau lain hal, yuk semangat dan tetap bersyukur karna anak-anak kita tetap tumbuh sehat dan pintar oleh kasih sayang.

With Love,



Firda Wianndini

1 komentar:

  1. Hai Bun, salam kenal.
    MasyaAllah kakang cute bangeeet.

    Setuju sekali, yg penting kakang sehat selalu yaaa..


    Jd terkenang, putra pertama saya lahir SC tanpa rencana. Sejam sebelum lahir, DSAnya sudah minta suami saya beli sufor NAN. Krn di USG baby saya kelihatan gede, takut gula darahnya drop kalau ASI saya belum keluar.

    Duh, jujur aja saya masuk ruang op dgn perasaan sedih.. ternyata di RS ga ada IMD dan DSA pro sufor. Tp saya pasrahkan pada ketentuan Allah.

    Dua hari pertama, anak saya susui langsung tapi memang ASi belum keluar. Akhirnya anak saya disendokin sufor oleh suster jaga bergantian.
    Ternyata, ga ada yg mau ditelannya. Semua dilelerin (mulutnya di buka aja ga mau ngehisap). Malam hari kedua, Alhamdulillah lancar dbf nya.
    Cuma bagaimana pun bukan asi eksklusif juga ya..

    Ibu saya -yg seorang mantan bidan- selalu membesarkan hati saya dgn bilang toh saya sendiri anak sufor (saya dititip di kampung sejak usia 7bulan). Alhamdulillah menurut beliau tumbuh kembang baik dan cukup cerdas juga hehehe..

    Semangat selalu Bun!

    BalasHapus

Terima Kasih sudah membaca :) Silahkan berkomentar dengan sopan hehe :)